·
Arisa
melantunkan nada-nada lembut dari biolanya dengan penuh penghayatan. Gesekan
antara busur biola dengan dawainya menciptakan suasana kedamaian di taman dekat
rumahnya yang selalu sepi. Jarang sekali orang atau terutama anak-anak kecil
yang berkunjung ke taman itu karena tidak adanya fasilitas yang menunjang.
Disana hanya ada satu bangku taman panjang yang biasa di tempati Arisa seorang
diri sambil bermain biola. Senja itu tak seperti biasanya, ketika ia memainkan
lagu dari Eric Clapton – Tears In Heaven dengan biolanya, ia merasa ada
seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Arisa kemudian menghentikan
permainannya, dan menoleh.
Ia mengucap. “apa
yang sedang kamu lakukan? Apa kamu melihat aku bermain biola barusan?”
“permainan biolamu
indah sekali.” Kata laki-laki itu. Ia berjalan mendekati Arisa.
“terimakasih atas
pujianmu, tapi aku tidak suka orang lain melihatku bermain biola.” Ucap gadis
itu lalu meninggalkan pria yang memujinya.
·
Arisa sangat
suka bermain biola, tapi ia tidak suka orang melihatnya. Baginya, orang lain
hanya akan merusak keindahan suasana yang diciptakan biolanya. Setelah sampai
dirumah, ia langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri.
·
Arisa menghela
nafas panjang. “haaaahhh, cuma ini yang bisa aku lakukan...hal yang tidak
membahayakan bagi diriku hanya bermain biola. Benda itu tidak akan
menyakitiku.”
·
Hari-hari
berikutnya, Arisa selalu mendapati laki-laki itu sedang menyaksikan dirinya
bermain biola. Arisa sungguh dibuat kesal olehnya. Akhirnya, untuk menghindari
laki-laki itu dia memutuskan untuk tidak pergi ke taman selama beberapa hari.
Sampai pada suatu hari, ia kembali mengunjungi taman tersebut untuk mengetahui
apakah laki-laki tersebut masih terus datang atau tidak. Tetapi, petang itu ia
tidak menemukannya. Arisa pun kembali memainkan biolanya, kali ini ia
membawakan lagu You Raise Me Up dari Josh Groban. Selang beberapa saat,
terdengar suara tepuk tangan dan ia berkata:
“aku
akan selalu datang untuk melihatmu bermain biola.”
·
Arisa lalu
menghampiri pria itu dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya penuh dengan
kekesalan. Tanpa ia sadari, rupanya ia tersandung batu yang cukup besar dan
saat itu juga ia tersungkur. Dagunya terbentur tanah, darah segar mengalir
tiada henti dari permukaan kulit Arisa. Laki-laki itu panik melihat Arisa yang
terus mengalami pendarahan padahal lukanya tidaklah besar.
·
Ketika itu
juga laki-laki itu tau bahwa Arisa mengidap penyakit hemofilia, sama dengan
seseorang. Arisa beruntung karena pada saat ia terjatuh pria itu segera
membawanya kerumah sakit tanpa berfikir panjang. Pria itu telah
menyelamatkannya, terlambat sedikit saja mungkin ia sudah tidak ada di dunia
ini lagi.
·
Setelah
beristirahat sesuai dengan anjuran dokter, Arisa masih tetap kembali ke taman
itu. Entah mengapa, hati kecilnya seperti menuntun langkah kakinya untuk pergi
kesana. Ia duduk di bangku taman yang hanya satu-satunya dan mulai memainkan
biolanya. Sekarang ia memainkan lagu dari Richard Marx – Right Here Waiting.
Derai air mata mengalir hangat di pipi Arisa. Ia terus memainkan lagu itu
sampai matahari terbenam. Langit oranye sudah berubah gelap namun pria tersebut
tak kunjung datang. Hari ini Arisalah yang menunggunya. Kini ia tau bagaimana
rasanya menunggu seseorang yang disukai.
·
Sejak kapan
Arisa menyukainya ia tidak tau persis. Satu yang pasti ia dapat merasakan
ketulusan dari setiap kata yang keluar dari bibir pria itu. Keesokan harinya
Arisa datang kembali ke taman dan masih memainkan lagu dari Richard Marx karna
lagu ini sangat menggambarkan perasaannya. Satu bulan telah berlalu tetapi
Arisa tetap menunggu pria itu di taman setiap hari.
Kemana
dia? Kenapa dia dengan seenaknya datang dan pergi sesuka hati? Gerutu gadis itu
dalam hatinya sambil menggit bibir menahan kesal.
“apa
kau sangat suka berada di taman ini?” terdengar suara seseorang yang perlahan
mendekatinya. Ia pun duduk disamping Arisa.
“siapa
kau?!” ucap Arisa penuh nada kecurigaan terhadap pria yang duduk disampingnya.
“aku
tau kau pasti sedang menunggu seseorang.” Kata pria itu seolah tau apa yang
selalu dilakukan Arisa ditaman ini setiap harinya. Arisa dibuat penasaran
olehnya. Mengapa ia bisa tau? Pikirnya kebingungan.
“kau
tidak usah bingung. Aku adalah orang yang kau tunggu.” Ujarnya sambil menatap
lurus kemata Arisa yang penuh tanda tanya.
“hah!
Jangan bercanda! Jelas-jelas kau berbeda dengan seseorang yang kutunggu!” Arisa
merasa lucu dengan laki-laki dihadapannya. Tiba-tiba ia datang dan menyatakan
diri sebagai orang yang ia tunggu. Apa orang ini sudah gila? Pikirnya.
“orang
yang selama ini bertemu denganmu adalah adik angkatku. Akulah yang pertama kali
melihatmu ditaman ini saat sedang bermain biola. Aku ingin sekali memberikan
pujian kepadamu, tetapi aku tidak bisa mendekatimu, karena itu aku meminta
adikku untuk terus bertemu denganmu dan mencari tau tentang dirimu. Setelah aku
tau ternyata kau memiliki penyakit yang sama dengan kekasihku dulu, aku
mengurungkan niat untuk lebih lanjut mengenal dirimu. Aku masih belum bisa
melupakan wajah kekasihku...aku sangat mencintainya...aku sangat menyayanginya
tetapi ia pergi meninggalkan aku..selama ini aku seperti mayat hidup. Hatiku
telah mati, hanya tubuhku yang tersisa. Tapi, ketika aku melihatmu, entah
mengapa denyut jantungku kembali berdetak setelah sekian lama tak berfungsi.”
·
Arisa yang
mendengarkan penjelasan pria itu benar-benar terkejut. Rasanya bercampur aduk,
ia merasa telah dibohongi dan dibodohi. Terlebih lagi perasaan yang ia simpan
ternyata untuk seseorang yang tidak dapat melupakan mantan kekasihnya. Ingin
sekali ia menangisi dirinya. Betapa bodoh dirinya selama ini menunggu orang
yang salah. Dan ketika seseorang yang sesungguhnya datang, ia malah merasakan
sakit hati. Cinta pertamanya adalah sebuah kesalahan.
“boleh
aku tau namamu?” tanya Arisa.
“aku
Danni, kau Arisa bukan?” katanya.
“terimakasih
Danni kau pernah mengukir kenangan dalam hatiku. Meskipun yang aku temui adalah
adikmu, tapi sebenarnya hatiku adalah milikmu. Yang aku suka adalah kamu.”
Arisa tidak bisa membendung air matanya. Hatinya hancur berkeping-berkeping
tiada bergeming.
Mendengar
pengakuan cinta Arisa, Danni tersentak kaget. “apa? Kau menyukaiku?!” matanya
terbelalak menatap wajah Arisa.
“ya,
untuk itu aku berterimakasih padamu Danni. Selama hidup aku hanya ditemani oleh
biola, tetapi hadirnya adikmu dan dirimu telah memberi warna di kehidupanku.”
jelas Arisa.
“kau
betul-betul mengingatkanku padanya..Hanna adalah kekasihku yang mempunyai
penyakit yang sama sepertimu. Dia meninggal saat kami kecelakaan. Aku ingat
darahnya mengalir deras tiada henti, dan akhirnya ia menghembuskan nafas
terakhirnya dalam perjalan kerumah sakit. Aku ingat kata-katanya sebelum ia
pergi *Dan, aku akan sangat kecewa jika kamu tidak membuka hatimu terhadap
orang lain karena aku*. Sedangkan aku selalu membuatnya kecewa, bagiku
melupakannya tidak semudah itu.” ucapnya terbawa emosi. Danni mencritakan
semuanya kepada Arisa. Sebelumnya ia tidak pernah mencritakan hal ini kepada
siapapun, hanya adiknyalah yang tau.
·
. Arisa bisa
merasakan penderitaan Danni, tetapi ia ingin Danni menjadi manusia yang
dinamis. Ia ingin Danni berubah
“Danni,
biar bagaimanapun, Hanna kekasihmu telah tiada, tidak sepatutnya kau terus
menyesali kejadian
Yang
telah berlalu. Tataplah masa depan yang menunggumu, jangan membuat dirimu
malang.”
·
Perlahan Danni
pun mulai melupakan Hanna. Berkat Arisa ia bisa melakukan hal yang tadinya
mustahil untuk dilakukan. Hubungan Arisan dan Danni bertambah dekat seiring
berjalannya waktu. Dan ia mengetahui satu hal bahwa ternyata Danni selama ini
dirawat dirumah sakit jiwa. Adiknya memberi tau bahwa kakaknya itu sangat
depresi ketika ditinggal pergi oleh kekasihnya sehingga dirinya mengalami
goncangan jiwa yang cukup berat. Arisa selalu mendampingi Danni setia saat. Ia
merawat Danni dengan penuh kasih sayang.
·
·
Meski Arisa
selalu ada disetiap Danni membutuhkan, namun perasaan Danni akan Hanna
kekasihnya dulu belum memudar. Belum ada perubahan yang cukup signifikan dari
Danni selama ia dirawat, semenjak ia menceritakan semuanya kepada Arisa ia
jarang berbicara lagi. Keadaan ini membuat orangtuanya pasrah. Mereka berencana
untuk membawa Danni berobat ke Amerika minggu depan. Arisa sendiri tidak tau
menau tentang rencana orang tua Danni. Saat ia ingin menjenguk Danni, ia tidak
mendapati laki-laki itu diruangannya.
“kakakku
sudah berangkat ke Amerika tadi pagi. Orangtuaku membawanya berobat kesana.”
Sahut orang itu.
“apa?
Danni pergi ke Amerika? Jangan bercanda terhadapku Michael!” seruku tidak
percaya.
“aku
tidak bohong.” Katanya sekenannya lalu pergi meninggalkan Arisa.
·
Arisa sungguh
tidak percaya. Danni pergi meninggalkannya. Ia merasa dunia menjadi gelap.
Penantian dan kesabarannya tidak dapat meluluhkan hati Danni. Yang ia lakukan
selama ini sia-sia. Dari pertama Danni tidak memandang Arisa sebagai seseorang
yang penting dalam hidupnya. Kenapa? Kenapa kau meninggalkan aku yang telah
menemani saat-saat kelam mu? Arisa kehilangan kata-kata. Bibirnya tak mampu
mengucap seuntai kata pun. Ia hanya berkata dalam hati. Menyimpan semua rasa
kekecewaan yang mendalam akan Danni.
·
This is my heart bleeding
before you,
This is me down on my knees...
These foolish games are
tearing me apart,
and your thoughtless words are
breaking my heart ..
You're breaking my heart...
(Jewel – Foolish Games)
THE END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar